Pihak RSUD A.Yani Saling Sambut Berikan Komentar Penjelasan Covid-19

0
221

Kota Metro-Pepadunnews.com Soal kebijakan penanganan Covid-19 di Kota Metro hanya omong kosong. Pelayanan 24 jam di Puskesmas di Kota Metro tidak ada. Pihak RSUD A.Yani menjadi rujukkan Covid-19, enggan melayani warga pendatang yang ingin memeriksakan diri. Pihak RSUD A.Yani saling sambut berikan komentar penjelasan antara Wadir I Bidang Pelayanan Medis, dr. Fitri dengan Kuasa Hukum RSUD setempat, Adri Abu Nawar. Disisi lain, Pihak Dinas Kesehatan melalui Sekretaris Dinas, dr. Silvi menyatakan, soal penanganan dan pencegahan medis Covid 19, banyak warga yang belum paham bagaimana prosedur atau SOP-nya, namun bagi warga yang telah paham dapat langsung melaporkan diri ke Puskesmas. Senin, 30 Maret 2020.

Mengulas sola kebijakan penanganan Covid 19, didampingi kuasa Hukum RSUD A.Yani, Adri Abu Nawar dan Kasi Medis dr. Anita, Wakil Direktur (Wadir) I Bidang Pelayanan Medis, dr. Fitri mengatakan bahwa memang benar adanya RSUD A.Yani menjadi rujukkan, tetapi rujukkannya seperti apa, sebab RSUD A.Yani ada SPO sendiri khususnya wilayah Kota Metro. Maksudnya, bagi seorang yang baru pulang dari luar daerah dalam jangka waktu 14 hari dari daerah yang mengalami transmisi lokal (Jakarta, Tanggerang, Bandung, Surabaya, Makasar dan Malang) wajib melaporkan diri ke RT/RW atau Puskesmas terdekat. Dari ini, akan dicatat oleh petugas Surveilan Dinas Kesehatan sesuai tempat domisili.

“Kalau warganya domilisi Lampung Timur, harus melaporkan Puskesmas Domisilinya dan dari itu akan ada petugas Surveilan domisilinya dan dicatat selama 14 hari, terpantau terus. Kalau ada keluhan selama 14 hari tersebut, barulah dilakukan pengobatan. Kalau semakin berat, maka di rujuk ke RS yang ditunjuk oleh Gubernur, salah satunya di Lampung Timur yakni RS Sukadana. Apapbila dari pihak RS Sukadana menemukan hasil rontgen positif, barulah ke RSUD A.Yani. Jadi tidak ujuk-ujuk semua langsung ke RSUD A.Yani dan wilayah Batam bukan termasuk wilayah transmisi Lokal,”kata dr.Fitri.

Tim media ini melanjutan konfirmasi, jika semisal ada warga dari Jakarta yang merasa gejala yang dimaksud Covid 19, atau kritis apakah warga bisa langsung ke RS atau tidak,? dr.Fitri dengan ngotot mematahkan konfirmasi tim media dan disambut oleh Kuasa hukum Adri Abu Nawar bahwa, mengenai wabah covid 19 ini mendunia memang dibutuhkan rekan media untuk memberikan edukasi informasi terkait hal ini kepada masyarakat, karena memang masyarakat belum paham mengenai teknis SOP penanganan virus covid 19 ini.

“Maka saya mohon kepada rekan media untuk membantu memberikan informasi yang edukasi, jangan sampai memberikan informasi yang belum di kroscek kepastiannya, karena ini menyangkut masalah keresahan. Saya juga mendapat informasi lewat berita dan saya lakukan klarifikasi dengan tim medis, kita juga perlu mengedukasi masyarakat tentang pencegahan, penanganan masalah musibah ini (Covid 19). Tolong jangan dipotong – potong beritanya, tolong bantu, kalian (media) itu corong kepada masyarakat terkait soal Covid 19 dan memang masyarakat semuanya belum paham dalam hal ini, beritakan apa adanya,”jelas Adri.

dr.Fitri lagi-lagi menyambut pembahasan dalam klarifikasi yang belum sampai selesai dikonfirmasikan, disambut lagi oleh Adri Abu Nawar, apapun halnya tetap warga harus melaporkan diri ke RT/RW setempat dan ke Puskesmas terdekat dan inilah SOP yang ada.

“Artinya jika ada warga yang telah merasakan gejala dimaksud, tetap harus melalui prosedur lapor ke RT/RW dan Puskesmas dan nanti akan ada petugas surveilan Dinas Kesehatan yang mengawasi selama 14 hari. Jika warga dalam beberapa hari dari 14 hari tersebut, merasakan panas atau nafas mulai sesak, maka menghubungi petugas Surveilan terkait. Artinya, selama 14 hari ini dilakukan pemantauan investigasi di kediaman warga itu sendiri,”ujarnya.

“Pada dasarnya, apakah warga itu ada keluhan atau tidak dapat di ketahui dengan cepat karena selama 14 hari itu dilakukan pemantauan secara terus menerus oleh petugas surveilan sampai pada tindakan pengobatan dan seterusnya hingga sembuh,”ungkapnya.

Di lain pihak, Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Metro, dr. Silvi menjelaskan, sebenarnya untuk lebih luasnya untuk infromasi ini satu pintu, karena ada Gugus Kota kemudian etis Kepala Dinas sampai penanganan dan sebagainya satu pintu, demikian info dari Kadis. Mengenai informasi pelayanan atau pergerakan Dinas dan Puskesmas, secara teknis lapangan sesuai ketentuan wilayah transmisi lokal pada khususnya dibantu pergerakkannya dari tingkat RT/RW sampai ke Puskesmas.

Jadi gerakkannya tidak hanya pihak Dinas Kesehatan tetapi dibantu juga oleh aparatur Pamong (RT/RW) yang ada, bergerak mendata dan melaporkan ke Puskesmas atau petugas kesehatan jika ada informasi warga yang bisa dikatakan masuk/datang dari luar daerah.

”Secara garis besarnya, penanganan teknis Virus Covid 19, sebenarnya banyak warga belum begitu paham mengenai SOP atau teknis penanganan dan pencegahan penyebaran virus Covid 19 ini. Akan tetapi, secara teknis kerja semua pihak Pemerintah, TNI/Polri dan unsur perangkat Kelurahan atau Desa (Pamong) turut serta bergerak mensosialisasikan hal ini kepada warganya, termasuk melakukan data warga jika, ada informasi atau laporan dugaan corona,”ujarnya.

Caranya, Pamong mendata warganya dan melaporkan ke pihak Puskesmas terdekat. Jelasnya begini, kata dr.Silvi, seperti informasi adanya warga dari luar daerah atau kota, pamong harus membantu mendata dan mengantarkannya ke Puskesmas terdekat untuk melaporkan diri, cek diri sebagai langkah antisipasi terjangkit virus corona. Jikalau warganya yang sudah paham akan hal ini, bisa langsung datang ke Puskesmas dan akan di lakukan deteksi sesuai SOP yang ada.

“Misal ada warga luar daerah, dari Jakarta bisa langsung melaporkan diri ke Puskesmas untuk deteksi diri, nanti akan di layani sesuai SOP yang ada sesuai domisili. Setelahnya akan dilakukan pemeriksaan dan pemantauan, jika hasilnya negatif maka bisa langsung pulang, tetapi tidak boleh keluar rumah selama 14 hari, dan tim kesehatan (Surveilans) melakukan investigasi dari cek sebelumnya, yakni 14 hari itu. Jika didapati ada gejala, maka langsung dilakukan protap penanganan lebih termasuk isolasi,”ujarnya.

Diberitakan sebelumnya, Kebijakan penanganan Covid-19 di Kota Metro hanya omong kosong. Pelayanan 24 jam di Puskesmas di Kota Metro tidak ada. Pihak RSUD A.Yani menjadi rujukkan Covid-19, enggan melayani warga pendatang yang ingin memeriksakan diri. Minggu, 29 Maret 2020.

“Saya baru pulang dari Batam, karena merasa dari daerah luar, dan saya ingin kerumah Bibi saya di Kota Metro, saya mendatangi rumah sakit Ahmad Yani, untuk minta di periksa, atau di apakanlah semprotkah atau apa saya tak mengerti medisnya. Karena saya sadar situasi, dan jangan sampai membuat cemas keluarga yang saya datangi,”kata Riko (22), bersama rekannya, sekitar pukul 18.30 WIB di depan areal RSUD A.Yani Kota Metro.

Masih kata Riko, petugas RSU A Yani justru mengintruksikan pergi ke Puskesmas Kota Metro. Atas intruksi itu, mendatangi  Mereka Puskesmas yang di maksud ternyata tutup. Meyakini ada beberapa Puskesmas lain yang jaraknya tidak jauh, bersama teman saya pun mendatangi Puskesmas rujukkan, Iringmulyo, Yosomulyo pun tidak ada yang buka.  berdekatan dan tidak ada yang buka.

“Kami diminta ke Puskesmas, kami ke puskesmas pada tutup. Ini gimana, kami balik lagi juga tak di layani oleh pihak RSUD AmYani. Akhirnya, kami nongkrong di Taman Kota,”ujar Riko.

Karena tidak ada kepastian, saya menghubungi kerabat terdekat, sekalian meminta dihantar pulang langsung ke Kampung, di Kabupaten Lampung Timur. Sebelumnya saya ke Apotik, beli obat antibody Amocylin dan diberi Hand Sanitizer serta masker dari kerabat saya dan pulang,”ujarnya.

Hal serupa, terjadi dengan warga lainnya, yang mereka baru pulang dari Jakarta. Datang ke RS A Yani, tidak ditanggapi, dan dan diminta ke Puskesmas. “Katanya, ada OPD, PDP, positif, negatif. Ini malah gak jelas. Kita udah bantu Pemerintah untuk meminta test, malah ribet. Bolak balik, halah bodo amatlah bang,” katanya.

Kondisi ini tidak sesuai dengan apa yang di sampaikan oleh pihak Pemeritah Kota Metro, yang katanya siap menangani pencegahan Covid-19, dengan menyiapkan angaran Miliar Rupiah, dan akan menjaga tujuh pintu masuk Kota Metro. “Boro boro jaga pintu masuk, datang mau periksa saja di pimpong dan tak dilayani, manis di mulut aja,”katanya.

Sebelumnya, 03 Maret 2020, pihak Dinas Kesehatan Kota Metro menyatakan telah menyiagakan seluruh Puskesmas, Klinik maupun Rumah Sakit untuk aktif memantau Suspek Terinfeksi Virus Corona di Kota Metro.

“Sudah kami instruksikan. Jadi jika ditemukan masyarakat yang mengalami tanda-tanda infeksi virus corona seperti demam, batuk pilek, sesak napas dan ditambah dengan riwayat habis bepergian ke luar negeri atau dari negara yang terkena wabah corona, segera laporkan ke dinas,”kata Kadiskes Metro, drg. Erla Andrianti.

drg. Erla juga mengatakan, Dinkes juga melakukan Surveilans atau pelacakan kepada warga Kota Metro yang baru datang dari luar negeri atau negara terdampak wabah virus corona. “Kalau di bandara dan pelabuhan kan sudah di’screening’. Kita juga lakukan pelacakan bagi warga yang datang dari luar negeri,”ungkapnya.

Dilanjutkannya, RSUD A. Yani yang merupakan salah satu rumah sakit rujukan virus corona di Provinsi Lampung juga sudah melakukan berbagai persiapan, jika ditemukan pasien suspek virus tersebut. Ruang isolasi sudah disiapkan. Saat ini mereka juga tengah melakukan persiapan internal seperti perawat, dokter atau tindakan lain yang perlu dilakukan jika ditemukan suspek corona. (*)